AQIDAH THAHAWIYAH

 ٥٢- وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ، وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ، وَالْأَعْضَاءِ، وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.


52. Allah Mahatinggi (Mahasuci) dari batasan-batasan, dimensi-dimensi, unsur-unsur anggota tubuh, dan perangkat-perangkat, dan Dia tidak dibatasi oleh arah yang enam  jumlahnya sebagaimana yang berlaku pada makhluk-Niya

Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz berkata:


Perkataan beliau: "Allah Mahatinggi (Mahasuci) dari batatan ba dimensi dimensi, unsur-unsur anggota tubuh, dan perangkat perspe dan Dia tidak dibatasi oleh arah yang enam jumlahnya sebagaitrians berlaku pada makhluk-Nya."


Ucapan beliau ini masih sangat global sehingga membutuhkan penjelasan yang tuntas Tetapi sayangnya, ucapan ini telah dijadikan dalil oleh para to'wil dan ilhad tentang nama nama dan Sifat-sifat Allah عز و جل padahal tidak ada hujjah bagi mereka pada ucapan beliau itu.


Sebenarnya beliau bermaksud mensucikan Allah penyerupaan dengan makhluk-Nya, tetapi beliau mengutarakarinya denge ungkapan yang masih global, yang masih membutuhkan penjelasan sehingga dengannya kesamarani menjadi hilang.


Maksud beliau dengan perkataan "hudud" atau batas-batas, pie batas-batas yang dimengerti oleh manusia. Akan tetapi, berkenaan dengu Allah, yang mengetahui batasan bagi Allah hanyalah Dia seridiri, karena makhluk tidak mampu meliputi ilmu Allah. Sebagaimana Allah dalam surah Thaahaa. berfirman


﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أََيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾


Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS. Thaaha: 110)


Perkataan para ulama Salaf dalam penetapan "batasan" dalam masalah istiwa atau selainnya, maksudnya adalah batasan yang hanya diketahui oleh Allah dan tidak diketahui hamba-Nya.


Adapun yang dimaksud oleh beliau dengan "Dimensi-dimensi, unsur-unsur anggota tubuh, dan perangkat-perangkat" adalah pensucian terhadap Allah dari penyerupaan dengan makhluk-Nya dalam masalah hikmah-hikmah-Nya atau Sifat-sifat Dzatiyah-Nya, baik berupa wajah, tangan, kaki, dan yang semisal dengan itu. Allah Yang Mahasuci disifati dengan semua itu, tetapi Sifat-sifat-Nya itu tidak seperti sifat-sifat makhluk-Nya, dan tidak ada yang mengetahui kaifiyahnya kecuali Dia sendiri.


Adapun ahlul bid'ah memutlakkan lafazh-lafazh yang seperti ini (Allah Mahasuci dari batas-batas, dimensi-dimensi..) untuk meniadakan Sifat-sifat Allah dengannya tanpa mau menggunakan lafazh-lafazh yang Allah sebutkan dan Allah tetapkan untuk diri-Nya sehingga dengan begitu kesalahan mereka tidak terbuka dan mereka tidak dicela oleh ahlul haq.


Akan tetapi, pengarang kitab ath-Thahawiyah tidak bermaksud demikian (sebagaimana maksud para ahli bid'ah tadi) karena beliau termasuk Ahlus Sunnah yang menetapkan Sifat-sifat Allah. Dan perkataan beliau dalam 'aqidah ini, sebagian menjadi tafsir atas sebagian yang lain dan sebagian membenarkan atas sebagian yang lain sehingga tidak ada kontradiksi. Perkataan yang samar ditafsirkan dengan perkataan beliau yang jelas.


Demikian pula ucapan beliau: "Dia (Allah) tidak dibatasi oleh arah yang enam", maksudnya adalah arah yang enam yang umum berlaku bagi makhluk-Nya. Beliau tidak bermaksud meniadakan al-'uluww dan al-istiwa' bagi Allah di atas 'Arsy-Nya. Karena hal itu tidak termasuk arah yang enam, tetapi al-'uluww dan al-istiwa' adalah di atas alam dan meliputinya. Allah telah men-jadikan fitrah hamba-Nya untuk beriman terhadap ketinggian-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bahwa Dia berada di arah atas. Keimanan terhadap ketinggian-Nya telah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari kalangan Shahabat Nabi dan para pengikutnya yang setia. Dalil-dalil berkenaan dengan masalah ini tercantum di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih secara mutawatir, semuanya menunjukkan bahwa keberadaan Allah adalah di atas.


Hendaklah berhati-hati terhadap perkara yang besar ini, wahai para pembaca yang mulia. Ketahuilah bahwa ini adalah perkara yang benar dan selain ini adalah bathil. Wallaahu Waliyyut taufiiq.


PENJELASAN:


Imam ath-Thahawi رحمة الله berkata: "Dari batas. batas..."


Ini beliau maksudkan sebagai bantahan terhadap Musyabbihah (golongan yang menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya).


Akan tetapi, kalimat ini masih global, samar, dan tidak termasuk lafazh-lafazh yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Padahal membantah mereka (Musyabbihah) dengan nash-nash Al-Qur-an dan As-Sunnah lebih benar dan lebih pantas daripada membawakan lafazh-lafazh yang dianggap menyelisihi kebenaran.


Di dalam firman Allah Ta'ala:


.. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ))


"... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syuura: 11)


Terdapat bantahan bagi golongan Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) dan Mu'aththilah (golongan yang menafikan Sifat-sifat Allah).

Orang yang mencari kebenaran tidak selayaknya mengarahkan perhatiannya kepada lafazh-lafazh seperti ini dan bersandar kepadanya karena Allah Yang Mahasuci disifati dengan sifat-sifat yang sempurna, agung, dan mulia.


Allah Ta'ala berada di atas seluruh makhluk-Nya, istiwa' di atas 'Arsy-Nya yang mulia dengan Dzat-Nya, 36 berpisah dari makhluk-Nya, Dia turun setiap malam ke langit dunia, dan akan datang pada hari Kiamat. Semua itu tetap pada hakikatnya dan kita tidak mentakwilnya.


Sebagaimana kita tidak mentakwil al-yad (tangan Allah) dengan arti kekuasaan-Nya, an-nuzuul (turunnya Allah ke langit dunia) dengan arti turunnya perintah-Nya, dan selain itu dari Sifat-sifat Allah, tetapi kita menetapkan semua itu dengan menetapkan keberadaan-nya, bukan menetapkan kaifiyat (bagaimana)nya.


36 Setelah membawakan perkataan Imam Abu Zakariya Yahya bin 'Ammar as-Sijistani al-Wa'izh yang di antara perkataannya ialah: "Bahkan kita mengatakan bahwa Allah dengan Dzat-Nya di atas 'Arsy."


Imam adz-Dzahabi رحمه الله berkata, saya katakan: "Perkataanmu 'Dengan Dzat-Nya' adalah dari kecerdasan (pendapat)mu. Pernyataan tersebut memiliki tempat lain yang lebih sesuai dan sekarang kita tidak membutuhkannya, karena orang yang mentakwil istiwa' mengatakan, 'Maksudnya, mengalahkan dan menguasai dengan Dzat-Nya tanpa pertolongan dan pendukung." Selesai dari al-'Uluww lil 'Aliyyil Ghaffaar (hlm. 245).


Sebelumnya pada hlm. 236 setelah menyebutkan sebagian dari ulama yang memutlakkan ungkapan ini, Imam adz-Dzahabi رحمة الله berkata, "Lafazh yang tersebut telah diutarakan oleh sejumlah ulama sebagaimana telah kami jelaskan. Dan tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan perkataan yang ber-lebihan termasuk dari kebaikan Islam seseorang." Selesai.

  Padahal Imam ath-Thahawi, penulis kitab ini, tidak butuh terhadap kalimat-kalimat yang global, mem-bingungkan, dan diada-adakan ini.


Jika dikatakan: sesungguhnya kalimat itu disusup kan (dimasukkan) ke dalam kitabnya dan bukan dari perkataannya, maka menurutku itu adalah sesuatu yang mungkin terjadi, sebagai bentuk persangkaan baik kepada Imam ini.


Bagaimana pun keadaannya, kebatilan itu tertolak atas orang yang mengatakannya siapa pun orangnya.


Siapa saja yang membaca biografi penulis, yakni Imam ath-Thahawi, terutama biografinya dalam kitab Lisaanul Miizaan, 37 niscaya ia akan mengetahui bahwa beliau termasuk para ulama besar dan para perawi hadits yang agung. Inilah yang membuat kami ber-prasangka baik terhadap beliau pada sebagian tempat dari tulisannya yang terdapat kritikan padanya.


Perkataan beliau: "Dia tidak dibatasi oleh arah..."


Dalil-dalil dari Al-Qur-an dan As-Sunnah menun-jukkan bahwa Allah Ta'ala berada di atas seluruh makhluk-Nya, ber-istiwa' di atas 'Arsy-Nya; sebagai-mana difirmankan Allah Ta'ala:


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى )


"(Yaitu) Yang Maha Pengasih Yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaahaa: 5)


37 Lisaanul Miizaan (1/274-282).


Juga firman-Nya:


وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ....


"Dan Dia-lah Yang Maha Berkuasa di atas hamba-hamba-Nya..." (QS. Al-An'aam: 18)


Arah yang enam itu tidak ada (tidak berlaku) bagi Allah Ta'ala; karena Allah berada di atas keenam arah tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim dalam an-Nuuniyyah:38


كُلُّ الْجِهَاتِ بِأَسْرِهَا عَدَمِيَّةٌ


فِي حَقِّهِ هُوَ فَوْقَهَا بِبَيَانِ


قدْ بَانَ عَنْهَا كُلِّهَا فَهُوَ الْمُحِيْطُ


 وَلَا يُحَاطُ بِخَالِقِ الْأَكْوَانِ




Setiap arah tidaklah berlaku bagi Allah,


Dia berada di atasnya berdasarkan penjelasan.


Sungguh Allah terpisah dari seluruh arah yang enam, Dia meliputi (segala sesuatu),


dan tidak ada yang dapat meliputi (Allah) Pencipta alam semesta.

(38)Al-Qashiidah an-Nuuniyyah (1/222) yang disyarah oleh Khalil Harras.

تعليقات

المشاركات الشائعة من هذه المدونة

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB TAUHID AHLUS SUNNAH WALJAMAAH

KUMPULAN DAFTAR NAMA KITAB - KITAB AQIDAH AHLUS SUNNAH WALJAMAAH