AQIDAH THAHAWIYAH

 ٨٦ - نَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ.


86. Kami berharap bagi para muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan) dari kalangan mukminin agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke dalam Surga dengan rahmat-Nya. Kami tidak merasa aman atas ancaman Allah bagi mereka, dan kami tidak memastikan mereka dengan Surga.


⚫ Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz رَحِمَهُ اللّٰهُ berkata:


Maksud beliau yaitu kecuali orang yang oleh Rasulﷺ sudah dipersaksikan dengan Surga, seperti sepuluh Shahabat, dan yang semisal mereka, sebagaimana penjelasan beliau pada akhir pembahasan kitabnya.


Selain itu sudah dimaklumi, bahwa sesungguhnya merupakan bagian dari 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yaitu, mempersaksikan bagi para Mukminin dan Muttaqin bahwa secara umum, mereka adalah penghuni Surga. Adapun orang-orang kafir musyrik dan munafik, mereka adalah penghuni Neraka sebagaimana tersebut dalam ayat-ayat yang mulia dan Sunnah yang mutawatir dari Rasulullah صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ Termasuk di antaranya adalah firman Allah berikut:


إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتِ وَنَعِيمِ


"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam Surga dan kenikmatan." (QS. Ath-Thuur: 17)


Dan firman-Nya:


وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَرُ خَالِدِينَ فِيهَا ...


"Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan (akan mendapat) Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya..." (QS. At-Taubah: 72)


Pada ayat-ayat lain masih banyak lagi yang menunjukkan makna yang semisal. Dan firman Allah tentang orang-orang kafir:


وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ )


"Dan orang-orang yang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir." (QS. Faathir: 36)


Dan firman Allah Ta'ala:


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا )


"Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS. An-Nisaa': 145)


Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan makna yang sama. Wabillaahit taufiq.


-۸۷- وَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْ، وَنَخَافُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نُقَنِّطُهُمْ.


87. Kami memohonkan ampun bagi orang-orang Islam yang melakukan dosa dan kami juga mengkhawatirkan mereka akan ditimpa siksa karena kejahatan mereka, namun kami tidak membuat mereka berputus asa terhadap rahmat Allah.


PENJELASAN:


Imam ath-Thahawi رحمه الله berkata: "Kami tidak memastikan mereka dengan Surga."


Ketahuilah bahwa pendapat yang dipegang oleh Ahlus Sunnah ialah bahwa mereka tidak memastikan terhadap seorang Muslim yang meninggal dunia dengan surga dan tidak juga neraka, kecuali orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah صَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan dikabarkan oleh beliau dengan hal tersebut, tetapi mereka berharap agar orang yang berbuat baik (masuk Surga) dan mereka khawatir terhadap orang yang berbuat jelek (masuk Neraka).


Dari sini engkau mengetahui kesalahan yang sering dikatakan oleh masyarakat banyak apabila mereka menyebutkan seorang ulama, amir, raja, atau selain mereka (yang telah meninggal dunia), mereka berkata, "Al-Maghfuur lahu (yang diampuni)" atau "Penghuni Surga."57


57 Peringatan: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin رَحِمَهُ اللّٰهُ pernah ditanya: tentang hukum perkataan: fulan al-maghfuur lahu dan fulan almarhuum? Maka Syaikh menjawab:

Sebagian orang mengingkari perkataan orang yang mengucapkan: "Fulan almaghfuur lahu (si fulan diampuni)" dan fulan almarhuum (si fulan dirahmati). Dan mereka mengatakan: 'Sesungguhnya kita tidak mengetahui apakah si mayit termasuk orang-orang yang diberi rahmat dan diampuni ataukah bukan?! Pengingkaran ini tepat pada tempatnya jika seseorang mengabarkan dengan tegas bahwa si mayit tersebut telah dirahmati atau diampuni. Sebab, kita tidak boleh memberi kabar tanpa ilmu bahwa si mayit ini telah dirahmati atau telah diampuni.


Allah Ta'ala berfirman:


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ...


"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui..." (QS. Al-Israa': 36)


Akan tetapi, manusia tidak memaksudkannya sebagai pemastian atau pengabaran bahwa mereka adalah orang-orang yang dirahmati, yang mereka maksud dengan ucapan itu hanyalah do'a-bahwa semoga Allah merahmati mereka dan harapan. Dan berbeda antara doa dan kabar. Oleh karena itu, (yang benar) kita ucapkan: fulan rahimahullaah (semoga Allah merahmati si fulan), fulan ghafarallaahu lahu (semoga Allah mengampuni si fulan), fulan 'afallaahu 'anhu (semoga Allah memaafkan si fulan). Dan bagaimana pun keadaannya, kita tidak mengingkari kalimat ini, yaitu perkataan kita, fulan al-marhum atau fulan al-maghfuur, dan ucapan yang semisalnya; karena, kita tidak mengabarkan dengan pasti dengan ungkapan itu sehingga kita mengatakan: Allah telah merahmati si fulan, Allah telah mengampuni si fulan, tetapi, kita memohon kepada Allah dan berharap kepada-Nya, dan itu masuk dalam bab do'a dan harapan, bukan masuk dalam bab pengabaran, dan berbeda antara ini (pengabaran) dan ini (doa)." (Majmuu' Fataawaa wa Rasaa-il Ibni 'Utsaimin (III/135-136).

Yang lebih parah ialah ucapan mereka: "Dipindah-kan menuju ar-Rafiiqil A'la."!!


Tidak diragukan lagi bahwa perkataan ini berarti berbicara atas Nama Allah tanpa ilmu, sedang berbicara atas Nama Allah tanpa ilmu sama dengan kesyirikan, seperti difirmankan oleh Allah Ta'ala:

وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَنَا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ


"...Dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-A'raaf: 33)


Adapun orang musyrik, maka kita memastikan mereka dengan neraka, karena Allah Ta'ala berfirman:


... إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَنَهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ) (٧٢)


"...Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu." (QS. Al-Maa-idah: 72)

تعليقات

المشاركات الشائعة من هذه المدونة

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB TAUHID AHLUS SUNNAH WALJAMAAH

KUMPULAN DAFTAR NAMA KITAB - KITAB AQIDAH AHLUS SUNNAH WALJAMAAH