AQIDAH THAHAWIYAH

 -٤٣ وَالرُّؤيَةُ حَقٌّ لِأهْل الْجَنَّةِ، بِغَيْرِ إِحَاطَةٍ وَلَا كَيْفِيَّة.


43. Ru'yah (Penduduk Surga akan melihat Allah) adalah benar, tanpa meliputi dan tanpa diketahui caranya., ٤٤- كَمَا نَطَقَ بهِ كِتَابُ رَبَّنَا وُجُوهٌ يَوْمَيذٍ نَاظِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ [القيامة : ٢٢-٢٣]


44. Sebagaimana firman Allah: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Rabb-nya." (QS. Al-Qiyaamah: 22-23).


٤٥ وَتَفْسِيرُهُ عَلَى مَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى وَعَلِمَهُ، وَكُلُّ مَا جَاءَ فِي ذَلِكَ مِنَ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَنِ الرَّسُوْلِ ﷺ فَهُوَ كَمَا قَالَ.


45. Penafsiran yang berkenaan dengan makna "melihat wajah Allah" adalah sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dan Allah ketahui. Dan setiap dalil yang datang dari hadits shahih dari Rasulullah ﷺ maka artinya adalah sebagaimana yang tersebut dalam teks hadits tersebut.


٤٦- وَمَعْنَاهُ: عَلَى مَا أَرَادَ، لَا نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوَلِيْنَ بِآرَائِنَا وَلَا مُتَوَهِمِينَ بِأَهْوَائِنَا.


46. Dan maknanya menurut apa yang Dia kehendaki, kita tidak boleh mendalami yang demikian dengan menakwilkannya menurut pendapat kita dan tidak boleh juga menduga-duga berdasarkan hawa nafsu kita.

-٤٧فَإِنَّهُ مَا سَلِمَ فِي دِينِهِ إِلَّا مَنْ سَلَّمَ لِلهِ عَزَّوَجَلٌ، وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَدَّ عِلْمَ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى عَالِمِهِ.


47. Sesungguhnya tidak akan selamat agama seseorang, kecuali orang yang berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengembalikan (menyerahkan) ilmu yang kurang jelas baginya kepada Allah Yang Maha Mengetahui.


PENJELASAN:


Imam ath-Thahawi رحمة الله berkata: "Ruyah (melihat Allah pada hari Kiamat) adalah haq..."


Tidak diragukan lagi bahwa pada hari Kiamat kaum mukminin akan melihat Rabb mereka yang berada di atas mereka. Sebagaimana hal itu telah diriwayatkan dengan shahih dari Nabi صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . Mereka melihat Rabb mereka dengan mata kepala mereka, dengan penglihatan yang hakiki, sebagaimana mereka melihat bulan dan matahari di hari yang cerah tanpa ada awan yang menghalanginya. Ini telah mutawatir dari Nabi 32 صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan tidak ada yang mengingkarinya, kecuali Mu'tazilah dan orang-orang yang mengikuti kesesatan mereka.


Dikatakan dalam an-Nuuniyyah:33


Silakan merujuk kitab Haadil Arwaah (hlm. 277), Syarh ath-Thahaawiyyah karya Ibnu Abil 'Izz (1/217), an-Nihaayah karya Ibnu Katsir (11/300), asy-Syariah (hlm. 264-270) dan at-Tashdiiq bin Nazhar ila Wajhillaahi Ta'aala, keduanya karya al-Aajurri.


Qashidah an-Nuuniyyah bi syarh Khalil Harras (11/407).

وَيَرَوْنَهُ سُبْحَانَهُ مِنْ فَوْقِهِمْ 



نَظَرَ الْعِيَانِ كَمَا يُرَى الْقَمَرَانِ


هٰذَا تَوَاتَرَ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ


لَمْ يُنْكِرُهُ إلَّا فَاسِدُ الإِيمَانِ



Dan mereka akan melihat Allah Yang Mahasuci Yang berada di atas mereka,


dengan penglihatan mata kepala seperti dilihatnya dua rembulan (bulan dan matahari)


Ini telah mutawatir dari Rasulullah,


tidak ada yang mengingkarinya, kecuali orang yang telah rusak imannya.


Adapun di dunia, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak dapat dilihat oleh seorang pun dari hamba-hamba-Nya.


Pada saat Rasulullah صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ditanya: "Apakah engkau melihat Rabb-mu?" Beliau menjawab:


نُورُ، أَنَّى أَرَاهُ.


"Cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya."34


34 Diriwayatkan oleh Muslim (no. 178 [291]).


Imam Ibnul Qayyim رحمة الله berkata: "Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata tentang sabda beliau صلى الله عليه وسلم "Cahaya. Bagaimana bisa aku melihat-Nya?" Maknanya: "Di sana ada cahaya dan telah menghalangi di belakang penglihatan terhadap-Nya. Cahaya bagaimana bisa aku melihat-Nya. Pensyarh kitab ath-Thahawiyyah menegaskan bahwa maknanya ialah: "Cahaya yang merupakan hijab yang menghalangi untuk melihat-Nya. Bagaimana aku dapat melihat-Nya, maksudnya: bagaimana aku melihat-Nya, sedang cahaya itu adalah penghalang antara aku dan Dia, yang menghalangiku untuk melihat-Nya?" Syarh Ibnu Abil 'Izz atas ath-Thahaawiyyah (1/224) dan Majmuu' al-Fataawaa (VI/507, 508).

   Maksudnya, cahaya telah menghalangi antara aku dan penglihatanku terhadap-Nya.


Aisyah رَضِ اللَّهُ عَنْهَا berkata: "Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Nabi Muhammad telah melihat Rabb-nya, maka ia telah berdusta."35


(35)Diriwayatkan oleh al-Bukhari no 3234 4855 7380) dian Muslim (no

تعليقات

المشاركات الشائعة من هذه المدونة

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB TAUHID AHLUS SUNNAH WALJAMAAH

KUMPULAN DAFTAR NAMA KITAB - KITAB AQIDAH AHLUS SUNNAH WALJAMAAH