AQIDAH THAHAWIYAH
٩٢- وَالْإِيْمَانُ وَاحِدٌ، وَأَهْلُهُ فِي أَصْلِهِ سَوَاءٌ، وَالتَّفَاضُلُ بَيْنَهُمْ بِالْخَشْيَةِ وَالتَّقَى، وَمُخَالَفَةِ الْهَوَى، وَمُلَازَمَةِ الْأَوْلَى.
92. Iman adalah satu, dan orang-orang yang beriman pada pokok keimanannya adalah sama, perbedaan tingkat keutamaan di antara mereka terletak pada khasy-yaho (rasa takut) dan takwa (kepada Allah), penyelisihan mereka terhadap hawa nafsu dan komitmen terhadap perkara yang paling utama.
⚫ Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz رَحَهُ اللهُ berkata:
Beliau mengatakan: "Iman adalah satu dan orang-orang yang beriman pada asalnya adalah sama."
Perkataan ini perlu ditinjau kembali, bahkan pernyataan ini adalah bathil!!
Orang-orang beriman tidak sama kedudukannya antara satu dengan lainnya. Peringkat orang-orang beriman sangat jauh berbeda, keimanan para Rasul tidak akan sama dibanding keimanan selainnya, keimanan Khulafa-ur Rasyidin dan keimanan para Shahabatرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْtidak sama dibanding keimanan selain mereka. Demikian juga keimanan mukminin tidak sama dibanding keimanan fasiqin. Perbedaan tingkat keimanan ini sesuai dengan apa yang ada di hatinya berkenaan dengan ilmu tentang Allah, Nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan apa yang Allah syari'atkan bagi hamba-hamba-Nya. Dan inilah pernyataan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berbeda dengan golongan Murji-ah dan kelompok lain yang sependapat dengannya. Wallaahul Musta'aan.
Dalam naskah lain tertulis " بِالْحَقِيقَة " )pada hakikat(.
Al-'Allamah Ibnu Abil 'Izz رحمه الله berkata: "Dalam sebagian naskah tertulis:
بالخشية والتقى ،"pada rasa takut dan takwa," sebagai ganti perkataan beliau: بالحقيقة ،"pada hakikat". Pada ungkapan yang pertama (yakni ucapan penulis bahwa orang yang beriman pada pokok keimanannya adalah sama, dst), beliau mengisyaratkan bahwa semuanya itu ikut serta dalam pokok pembenaran. Tetapi, pembenaran itu sebagiannya ada yang lebih kuat dan lebih kokoh daripada sebagian lainnya, sebagaimana telah berlalu penyerupaannya dengan kuat dan lemahnya penglihatan (maksudnya: bahwa orang yang melihat (tidak buta) adalah sama dalam pokok penglihatannya, yaitu mereka sama-sama bisa melihat, akan tetapi mereka berbeda tentang kekuatan penglihatan, ada yang tajam dan ada yang lemah). Sedang dalam ungkapan yang kedua (yaitu bahwa perbedaan orang-orang yang beriman terletak pada rasa takut dan takwa "Penj) beliau mengisyaratkan perbedaan antara kaum Mukminin dalam amalan-amalan hati, sedang pembenaran tidak ada perbedaan. Makna yang pertama nampak lebih kuat, wallaahu a'lam bish
ashawaab." [Lihat Syarh Ath-Thahawiyyah (II/504-505) ]
PENJELASAN:
Pendapat yang benar, yang tidak ada keraguan padanya ialah pendapat yang menyatakan bahwa pada asalnya iman (pada tiap individu) itu berbeda-beda (tidak sama).
Keimanan salah seorang dari manusia tidak sama dengan keimanan Malaikat Jibril عليه السلام dan tidak pula sama dengan keimanan Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Pendapat yang menyatakan bahwa manusia itu sama dalam pokok iman tidak termasuk keyakinan Ahlus Sunnah!!
تعليقات