AQIDAH THAHAWIYAH
٦لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ.
6. Allah tidak fana dan tidak pula binasa.
-٧ وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ.
7. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya.
لَا تَبْلُغُهُ الْأَوْهَامُ، وَلَا تُدْرِكُهُ الْأَفْهَامُ.
8. Allah tidak dapat dijangkau oleh dugaan 20 dan tidak pula pemikiran.
وَلَا يُشْبِهُ الْأَنَامَ.
9. Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya. 21
20 Perkataan Imam ath-Thahawi رحمة الله : "Allah tidak dapat dijangkau dengan dugaan dan tidak pula pemikiran."
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا )
"...Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS. Thaahaa: 110)
Dikatakan dalam ash-Shihhaah: "Tawahhamtu asy-Syai-a, artinya: aku menyangkanya. Dan fahimtu asy-syai-a, artinya: aku mengetahuinya." Yang dimaksud oleh Syaikh رحمهُ الله ialah bahwa tidak ada suatu sangkaan (dugaan) pun yang dapat mencapai-Nya dan tidak ada satu ilmu pun yang dapat meliputi Nya. Maka Allah سبحانه وتعالى tidak ada yang mengetahui bagaimana Dia, kecuali Dia sendiri yang mengetahui-Nya سُبحانه وتعالى . Kita hanyalah dapat mengenal Allah Ta'ala dengan Sifat-sifat-Nya bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, tempat bergantung seluruh makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak 21
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Selesai dari Syarh ath-Thahaawiyyah. Perkataan Imam ath-Thahawi رحمة الله : "Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya."
١٠- حَيُّ لَا يَمُوْتُ، قَيُّوْمُ لَا يَنَامُ.
10. Yang Mahahidup tanpa mengalami mati, Yang Maha-berdiri sendiri tidak pernah tidur.
۱۱- خَالِقٌ بِلَا حَاجَةٍ، رَازِقُ بِلَا مَؤُوْنَةٍ.
11. Sang Pencipta tanpa membutuhkan pada ciptaan-Nya, Sang Pemberi rezeki tanpa pernah kekurangan. 22
١٢- مُمِيتُ بِلَا مَخَافَةٍ، بَاعِثُ بِلَا مَشَقَّةٍ.
12. Dia yang mematikan makhluk tanpa gentar, Dia yang membangkitkan sesudah kematian tanpa ada kesulitan.
۱۳ - مَا زَالَ بِصِفَاتِهِ قَدِيْمًا قَبْلَ خَلْقِهِ.
13. Allah senantiasa memiliki Sifat-sifat-Nya sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya.
١٤ - لَمْ يَزْدَدْ بِكَوْنِهِمْ شَيْئًا، لَمْ يَكُنْ قَبْلَهُمْ مِنْ صِفَتِهِ.
Perkataan beliau ini tidaklah dimaksudkan untuk menafikan (meniadakan) Sifat-sifat Allah Ta'ala seperti yang dikatakan oleh ahlul bid'ah. Di antara per-kataan Abu Hanifah رحمه الله dalam kitab Fiq-hul Akbar ialah: "Allah tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya dan tidak ada suatu makhluk pun yang serupa dengan Dia." Setelah itu beliau berkata: "Semua sifat Allah berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Dia mengetahui, tetapi tidak seperti pengetahuan kita, Dia mempunyai kemampuan, tetapi tidak seperti kemampuan kita, dan Dia melihat, tetapi tidak seperti penglihatan kita." Selesai.
22 Perkataan Imam ath-Thahawi رحمة الله : "...Tanpa pernah kekurangan." Maksudnya, tanpa merasa berat dan tanpa merasa terbebani.
14. Sifat Allah tidak bertambah sama sekali dengan adanya makhluk, yang sebelum keberadaan mereka bukan menjadi sifat-Nya.
-١٥- وَكَمَا كَانَ بِصِفَاتِهِ أزَلِيًّا، كَذلِكَ لَا يَزَالُ عَلَيْهَا أَبَديًّا.
15. Sebagaimana Allah memiliki Sifat-sifat itu secara azali, demikian juga Dia selalu memiliki Sifat-sifat itu secara abadi
-١٦ لَيْسَ مُنْذُ خَلَقَ الْخَلْقَ اسْتَفَادَ اسْمَ الخَالِقِ وَلَا بِإِحْدَاثِهِ الْبَرِيَّةَ اسْتَفَادَ اسْمَ الْبَارِي».
16. Nama Allah sebagai Al-Khaliq bukannya baru diperoleh setelah Dia menciptakan makhluk, Nama Allah sebagai Al-Baari bukannya baru diperoleh setelah adanya bariyyah (manusia/makhluk).
۱۷ - لَهُ مَعْنَى الرُّبُوْبِيَّةِ وَلَا مَرْبُوْبَ، وَمَعْنَى الْخَالِقِ وَلَا مَخْلُوقَ
17. Dia memiliki sifat Rububiyyah (pengatur) sebelum ada yang diatur, dan Dia Sang Pencipta sebelum ada yang dicipta. 23
١٨- وَكَمَا أَنَّهُ مُحْيِي الْمَوْتَى بَعْدَمَا أَحْيَا، اِسْتَحَقَّ هُذَا الْإِسْمَ قَبْلَ إِحْيَائِهِمْ، كَذَلِكَ اسْتَحَقَّ اسْمَ الْخَالِقِ قَبْلَ إِنْشَائِهِمْ.
23 Imam ath-Thahawiرحمه الله mengatakan: "Dia memiliki sifat rububiyyah (pengatur) sebelum ada yang diatur, dan Dia Sang Pencipta sebelum ada yang dicipta."
Maksudnya, bahwa Allah Ta'ala disifati bahwa Dia adalah "Rabb (Pengatur)" sebelum Dia mengadakan apa yang Dia atur, dan Dia disifati bahwa Dia adalah "Khaaliq (Pencipta)" sebelum Dia mengadakan makhluk-Nya. [Dari Syarh ath-Thahaawiyyah]
. Sebagaimana Dia (berhak disifati dengan): Yang menghidupkan orang-orang yang telah mati setelah Dia menghidupkan mereka, demikian juga Dia yang berhak menyandang sifat ini sebelum Dia menghidupkan mereka. 24 Begitu juga Dia yang berhak menyandang nama Al-Khaaliq (Maha Pencipta) sebelum makhluk diciptakan.
١٩- ذَلِكَ بِأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَكُلُّ شَيْءٍ إِلَيْهِ فَقِيرٌ، وَكُلُّ أَمْرٍ عَلَيْهِ يَسِيرٌ، لَا يَحْتَاجُ إِلَى شَيْءٍ ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴾ [السُّورَى : ١١].
19. Hal itu karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, segala sesuatu butuh kepada-Nya, segala urusan adalah mudah bagi-Nya, dan Dia tidak butuh kepada sesuatu. Allah berfirman: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syuura: 11)
PENJELASAN:
Perkataan beliau: "Hal itu karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu..." dan seterusnya.
Ada sebagian orang yang mengatakan: "Dan Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki." Perkataan ini tidak benar!!
24 Catatan: Lafazh al-Muhyi (menghidupkan) adalah sifat fi'liyyah (perbuatan) yang khusus bagi Allah dan bukan termasuk Nama-Nya. Lihat Shifaatillaah al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah (hlm. 230) karya 'Alwi bin 'Abdul Qadir as-Saqqaf, Pen).
Tetapi yang benar adalah apa yang datang dan Al-Qur-an dan As-Sunnah yaitu "Dia Mahakuasa atas segala sesuatu karena keumuman kehendak Nya dan kekuasaan-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى"
Berbeda dengan ahlul i'tizaal (Mu'tazilah) yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah tidak menghendaki terjadinya maksiat pada hamba-Nya, tetapi itu terjadi dengan kehendak hamba itu sendiri, terlepas dari kehendak Allah."
Oleh karena itu, salah seorang yang sesat dari mereka mengatakan:
أَنَّ الْمَعَاصِي مِنْ قَضَاءِ الْخَالِقِ
حَدَّ الزِّنَا وَقَطْعَ كَفَ السَّارِقِ.
زَغَمَ الْجَهُوْلُ وَمَنْ يَقُوْلُ بِقَوْلِهِ
إِنْ كَانَ حَقًّا مَا يَقُولُ فَلِمَ قَضَا
Orang bodoh dan yang sependapat dengannya, menyangka bahwa maksiat termasuk ketetapan Al-Khaliq,
Jika yang dikatakannya itu benar, lantas mengapa Dia...
menetapkan hadd zina dan pencuri dipotong pergelangan tangannya?
Abu Khaththab 25 رحمه الله berkata untuk menjelaskan yang haq dan yang benar:
25 Beliau adalah Abu Khaththab Mahfuzh bin Ahmad bin al-Hasan al-Kuludzani al-Baghdadi. Lahir pada th. 432 H dan wafat pada th. 510 H. Biografinya terdapat dalam adz-Dzail 'alaa Thabaqaat al-Hanaabilah karya Ibnu Rajab (1/116-127). Dan bait-bait di atas adalah dari qoshidahnya tentang aqidah Ahlus Sunnah, yang dicantumkan oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam kitabnya, Al-Muntazhim fii Taariikhil Umami wal Muluuk (IX/190).
قَالُوا فَأَفْعَالُ الْعِبَادِ فَقُلْتُ مَا مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ الْإِلٰهِ الْأَمْجَدِ
قَالُوْا فَهَلْ فِعْلُ الْقَبِيحِ مُرَادُهُ
قُلْتُ الْإِرَادَةُ كُلُّهَا لِلسَّيِدِ
لَوْ لَمْ يُرِدْهُ وَ كَانَ كَانَ نَقِيْصَةً
سُبْحَانَهُ عَنْ أَنْ يُعْجِزَهُ الرَّدِي.
Mereka berkata, perbuatan (maksiat) hamba (adalah ciptaan mereka), maka kukatakan:
tidak ada pencipta selain Ilah Yang Mahaagung.
Mereka berkata, apakah perbuatan jelek itu kehendak-Nya?
Kukatakan, kehendak itu seluruhnya milik As-Sayyid (Allah)
Jika ia terjadi tanpa kehendak-Nya, itu adalah kekurangan, Mahasuci Allah dari dikalahkan oleh kejelekan.
Iradah yang disebutkan oleh al-Khaththab adalah iradah kauniyyah qadariyyah, bukan iradah kauniyyah syar'iyyah sebagaimana akan disebutkan penjelasannya
تعليقات