AQIDAH THAHAWIYAH
٦٧- وَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالْقَلَمِ وَبِجَمِيعِ مَا فِيْهِ قَدْ رُقِمَ.
67. Kami mengimani adanya Lauh Mahfuzh, Qalam, dan segala sesuatu yang telah ditulis di dalam Lauh Mahfuzh.
٦٨ - فَلَوِ اجْتَمَعَ الْخَلْقُ كُلُّهُمْ عَلَى شَيْءٍ كَتَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ أَنَّهُ كَائِنُ، لِيَجْعَلُوْهُ غَيْرَ كَائِن؛ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهِ وَلَوِ اجْتَمَعُوْا كُلُّهُمْ عَلَى شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِن لِيَجْعَلُوْهُ كَائِنَا؛ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهِ. جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
68. Sekiranya seluruh makhluk berkumpul untuk melakukan sesuatu yang telah Allah Ta'ala tetapkan akan terjadi agar tidak terjadi, pasti mereka tidak akan mampu melakukannya. Demikian juga sekiranya semua makhluk berkumpul untuk melakukan sesuatu yang Allah Ta'ala tetapkan tidak akan terjadi, agar terjadi, maka pastilah mereka tidak akan mampu melakukannya. Telah kering pena untuk menulis segala ketetapan yang akan terjadi hingga hari Kiamat.
٦٩ - وَمَا أَخْطَأَ الْعَبْدَ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ، وَمَا أَصَابَهُ؛ لَمْ يَكُن لِيُخْطِئَهُ.
69. Apa saja yang telah ditetapkan tidak menimpa seorang hamba, maka itu tidak akan menimpanya; dan apa saja yang telah ditetapkan akan menimpanya, pasti akan menimpanya (tidak akan meleset).
PENJELASAN:
Imam ath-Thahawi رحمة الله berkata: "Kami mengimani adanya Lauh Mahfuzh, Qalam..."
Allah Ta'ala berfirman:
﴿بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَجِيدُ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظ﴾
"Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur-an yang mulia, yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauhul Mahfuuzh)." (QS. Al-Buruuj: 21-22)
Jadi, Al-Qur-anul Karim telah tertulis di dalam Lauhul Mahfuuzh, sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta'ala.
Jibril عليه السلام mendengarkan Al-Qur-an dari Allah Ta'ala lalu disampaikan kepada Nabi kita Muhammad عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ yang diturunkan dari Rabb-mu dengan membawa kebenaran, dan Allah tidak berfirman: "Dari Lauhul Mahfuuzh."
Tidak ada pertentangan antara keberadaan Al-Qur-an itu di Lauhul Mahfuuzh dan keadaannya yang diturunkan dari sisi Allah, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 43
Syaikhul Islam berkata: "Dan Lauhul Mahfuuzh berada di atas semua langit. Telah datang dalam hadits bahwa tidak ada yang dapat melihatnya selain Allah ". عز وجل
Saya katakan: Dari sini menjadi jelas bagi kita
kesesatan orang yang mengatakan: "Sesungguhnya ruh seorang hamba dapat melihat Lauhul Mahfuuzh." Ini adalah perkataan filsafat yang termasuk khurafat para penyembah orang-orang shalih atau penyembah orang yang thalih (durhaka) sebagaimana hal itu telah mengakar pada diri mereka. Maka berhati-hatilah terhadapnya karena perkataan itu adalah kedustaan belaka.
43
Majmuu' Fataawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah (XII/126-127)
Adapun qalam (pena pencatat takdir) yang disebutkan penulis ialah qalam yang diciptakan Allah dan Allah menulis dengannya seluruh takdir di dalam Lauhul Mahfuuzh sebagaimana terdapat dalam hadits Ubadah bin ash-Shamit رَضِ اللَّهُ عَنْهُ yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu' (sampai kepada Nabi):
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ، وَمَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ.
"Yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam (pena pencatat takdir). Kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Tulislah!' Qalam menjawab: 'Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?' Allah menjawab: "Tulislah takdir segala sesuatu hingga terjadinya Kiamat.'"[Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4700), at-Tirmidzi (no. 2155, 3319), dan Ahmad (V/317), dengan sanad hasan. Hadits ini mempunyai penguat lainnya sehingga derajatnya naik menjadi shahih. Silakan merujuk takhrij as-Sunnah libni Abi 'Ashim karya Syaikh al-Albani (1/48, 49) dan Syarh ath-Thahaawiyyah takhrij Syaikh Syu'aib al-Arna-uth (1/244).]
Para ulama berbeda pendapat: apakah qalam sebagai makhluk yang pertama ataukah 'Arsy. Ada dua pendapat, sebagaimana diceritakan oleh Ibnul Qayyim dalam an-Nuuniyyah, {Al-Qashiidah an-Nuuniyyah (1/186) disyarah oleh Khalil Harras.} dan beliau memilih pendapat yang mengatakan bahwa qalam diciptakan setelah diciptakannya 'Arsy, oleh karena itulah beliau berkata:
وَ النَّاسُ مُخْتَلِفُوْنَ فِى الَّذِيْ كُتِبَ الْقَضَاءُ بِهِ مِنْ الدَّيَّانِ هَلْ كَانَ قَبْلَ الْعَرْشِ أَوْ بَعْدَهُ قَوْلاَنِ عِنْدَ أَبِي الْعَلاَ الْهَمَذَانِيْ وَ الْحَقُّ أَنَّ الْعَرْشَ قَبْلُ لِأَنَّهُ وَقْتَ الْكِتَابَةِ كَانَ ذَا أَرْكَانٍ وَ كِتَابَةُ الْقَلَمِ الشَّرِيْفِ تَعَقَّبَتْ إِيْجَادَهُ مِنْ غَيْرِ فَصْلِ زَمَانٍ
Para ulama berselisih tentang (qalam), yang dengannya ditulis takdir atas perintah (Allah) Yang Mahakuasa
Apakah ia diciptakan sebelum 'Arsy ataukah setelahnya?
Ada dua pendapat menurut Abul 'Ala al-Hamadzani
Yang benar, bahwa 'Arsy diciptakan sebelumnya karena
pada saat penulisan, 'Arsy telah (ada dan) memiliki tiang-tiang
Dan penulisan qalam yang mulia
ada setelah penciptaannya tanpa selang waktu pemisah.
تعليقات