AQIDAH THAHAWIYAH
٥٣- وَالْمِعْرَاجُ حَقٌّ، وَقَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقْظَةِ إِلَى السَّمَاءِ، ثُمَّ إِلَى حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الْعُلَا وَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَا شَاءَ، وَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى ﴿مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى﴾ [النَّجْمِ :(١١) فَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى
53. Peristiwa Mi'raj adalah benar Nabi ﷺ telah diperjalankan oleh Allah (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) dan juga dinaikkan ke langit (dengan jiwa dan raga beliau) dalam keadaan terjaga (tidak tidur). Kemudian Allah juga membawa beliau ke tempat lain yang dikehendaki-Nya di langit sana. Allah memuliakan beliau sesuai dengan kehendak-Nya dan Allah memberinya wahyu apa saja yang Allah wahyukan padanya. Firman Allah, "Hatinya tidak men-dustakan apa yang telah dilihatnya." (QS. An-Najm: 11), Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau di dunia dan juga di akhirat.
٥٤ - وَالْحَوْضُ الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ غِيَاثًا لِأُمَّتِهِ - حَقٌّ.
54. Al-Haudh (telaga) yang dengannya Allah memuliakan Nabi صَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ untuk menolong orang yang kehausan dari ummatnya adalah benar.
٥٥ وَالشَّفَاعَةُ الَّتِي إِدَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّ، كَمَا رُوِيَ فِي الْأَخْبَارِ.
55. Syafa'at yang diperuntukkan bagi ummat Nabi Muhammad adalah benar sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat-riwayat hadits.
٥٦ - وَالْمِيثَاقُ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ حَقٌّ.
56. Perjanjian yang telah Allah buat untuk Nabi Adam dan anak keturunannya adalah benar.
٥٧ وَقَدْ عَلِمَ اللهُ تَعَالَى – فِيْمَا لَمْ يَزَلْ - عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَلَا يُزَادُ فِي ذَلِكَ الْعَدَدُ، وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ.
57. Sejak dahulu Allah telah mengetahui berapa jumlah orang yang akan masuk surga dan berapa jumlah orang yang akan masuk neraka sekaligus. Dan jumlah tersebut tidak akan bertambah maupun berkurang.
٥٨ - وَكَذَلِكَ أَفْعَالُهُمْ فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوْهُ.
58. Demikian pula Allah mengetahui perbuatan-perbuatan yang akan dilakukan hamba-hamba-Nya.
٥٩ - وَكُلُّ مُيَسَّرُ لِمَا خُلِقَ لَهُ.
59. Setiap makhluk dimudahkan atas apa yang telah diciptakan (ditentukan) baginya.
٦٠ - وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.
60. Dan amalan-amalan hamba (manusia) tergantung pada kesudahannya (akhir kehidupannya).
٦١- وَالسَّعِيدُ مَنْ سَعِدَ بِقَضَاءِ اللَّهِ، وَالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ الله.
61. Orang yang bahagia adalah yang bahagia berdasarkan ketentuan Allah, dan orang yang celaka adalah yang celaka berdasarkan ketentuan Allah.
PENJELASAN:
Imam ath-Thahawi رحمة الله berkata: "Orang yang bahagia adalah yang bahagia berdasarkan ketentuan Allah, dan orang yang celaka adalah yang celaka berdasarkan ketentuan Allah."
Al-Hafizh Ibnu Rajab رَحمه الله mengatakan:39 "Iman kepada qadar (takdir) terdiri dari dua tingkatan:
Pertama: mengimani bahwa ilmu Allah mendahului apa yang akan dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya, berupa kebaikan maupun keburukan, taat maupun maksiat, sebelum Dia menciptakan dan mewujudkan mereka, (Dia mengetahui) siapa yang akan menjadi penghuni surga dan siapa yang akan menjadi peng-huni neraka, Dia menyiapkan bagi mereka ganjaran pahala dan siksa sebagai balasan atas perbuatan mereka sebelum mereka diciptakan dan diadakan, dan (meng-imani) bahwa Dia mencatat semua itu di sisi-Nya dan menghitungnya, dan bahwa amalan hamba itu berjalan sesuai dengan ilmu dan penulisan-Nya yang telah mendahuluinya.
Jaami'ul' Uluum wal Hikam (1/103).
Dan tingkatan yang kedua: bahwa Allah menciptakan seluruh perbuatan hamba, berupa kekufuran, iman, kelaatan kepada-Nya, dan maksiat, dan Allah meng-hendaki-Nya atas mereka.
Tingkatan ini ditetapkan oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah, tetapi diingkari oleh Qadariyyah.
Tingkatan pertama ditetapkan oleh kebanyakan golongan Qadariyyah, tetapi dinafikan oleh golongan mereka yang ekstrim seperti Ma'bad al-Juhani.
Banyak dari ulama Salaf mengatakan: "Bantahlah Qadariyyah dengan ilmu. Jika mereka menetapkannya, mereka telah kalah debat, dan jika mengingkarinya, mereka telah kafir."
Alangkah indahnya perkataan Imam asy-Syafi'i : رحمة الله
فَمَا شِئْتَ كَانَ وَ إِنْ لَمْ أَشَأْ
وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ
خَلَقْتَ الْعِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ
فَفِي الْعِلْمِ يَجْرِي الْفَتَى وَالْمُسِنُ
عَلَى ذَا مَنَنْتَ وَ هٰذَا خَذَلْتَ
وَهُذَا أَعَنْتَ وَذَا لَمْ تُعِنْ
فَمَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ
خَلَقْتَ الْعِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ
عَلَى ذَا مَنَنْتَ وَهُذَا خَذَلْتَ
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَمِنْهُمْ سَعِيدُ
وَ مِنْهُمْ قَبِيْحٌ وَ مِنْهُمْ حَسَنْ
Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi, kendati aku tidak menghendakinya.
Sedangkan apa yang aku kehendaki, jika tidak Engkau kehendaki pastilah tidak terjadi.
Telah Engkau ciptakan hamba-hamba ini, sesuai dengan apa yang Engkau ketahui.
Di dalam ilmu berlangsung kehidupan, ada orang muda juga ada orang tua.
Kepada yang ini, Engkau anugerahkan, dan kepada yang itu, Engkau terlantarkan.
Ini, Engkau tolong, dan yang itu tidak Engkau tolong.
Di antara mereka ada yang celaka, dan di antara mereka ada yang bahagia
Di antara mereka ada yang buruk, dan di antara mereka ada pula yang baik. 40
٦٢- وَأَصْلُ الْقَدَرِ سِرُّ اللَّهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يَطَّلِعُ عَلَى ذَلِكَ مَلَكُ مُقَرَّبُ وَلَا نَبِيُّ مُرْسَلٌ.
62. Hakikat takdir adalah rahasia Allah Ta'ala atas hamba-Nya. Takdir tersebut tidak diketahui oleh malaikat yang dekat dengan-Nya tidak pula Rasul yang diutus.
40 Bait-bait syair di atas dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Manaaqib asy-Syaafi'i (1/412, 413), dengan sanad yang sampai kepada ar-Rabi', ia berkata: "Asy-Syafi'i ditanya tentang Qadar (takdir) maka beliau berkata: "..." lalu ia menyebutkan syair di atas. Juga dalam riwayat beliau (II/109) dari jalan lain yang sampai kepada al-Muzani, ia berkata: "Aku masuk menemui asy-Syafi'i ketika beliau sakit yang membawanya kepada kematiannya, maka beliau melantunkan syair kepadaku untuk dirinya sendiri, "..." kemudian ia menyebutkan bait syair di atas.
Bait-bait tersebut juga terdapat dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (X/254) dan Thabaqaat asy-Syaafi'iyyah (1/295).
٦٣ - وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فى ذَلِكَ ذَريعَةُ الخِذْلان، وَسُلَّمُ الحِرمان وَدَرَجَةُ الطُغْيَانِ.
63. Membahas (bertele-tele) dan menyelidiki secara mendalam masalah takdir adalah jalan menuju kehinaan, tangga menuju perbuatan haram, dan tingkatan menuju perbuatan yang berlebih-lebihan.
٦٤ - فَالْحَذَرَ كُلَّ الْحَذَرِ مِنْ ذُلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةً، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى طَوَى عِلْمَ الْقَدَرِ عَنْ أَنَامِهِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ مَرَامِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ﴿لَا يُسْتَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْتَلُونَ ﴾ [الأَنْبِيَاء : ٢٣].
64. Oleh karena itu, maka jauhilah hal itu (membahas bertele-tele dan menyelidiki secara mendalam masalah takdir), sungguh, jauhi semua itu baik dalam penelitian, pikiran, maupun waswas. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah menutup ilmu takdir dari pengetahuan manusia dan melarang mereka menggapainya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam kitab-Nya: "Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya." (QS. Al-Anbiyaa': 23).
٦٥ - فَمَنْ سَأَلَ: لِمَ فَعَلَ؟ فَقَدْ رَدَّ حُكْمَ الْكِتَابِ، وَمَنْ رَدَّ حُكْمَ الْكِتَابِ كَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ.
65. Barangsiapa menanyakan: "Mengapa Allah berbuat demikian?" Berarti orang tersebut menentang (menolak) hukum Al-Kitab (hukum-hukum Al-Qur-an). Dan barang-siapa menentang hukum Al-Kitab (hukum-hukum Al-Qur-an) maka ia termasuk golongan kafir.
PENJELASAN:
Imam ath-Thahawi رحمه الله berkata: "Hakikat takdir adalah rahasia Allah Ta'ala atas hamba-Nya..."
Pensyarah kitab ath-Thahawiyah41 berkata: "Hakikat takdir adalah rahasia Allah atas makhluk-Nya. Dia-lah Allah yang mengadakan dan meniadakan, membuat fakir dan membuat kaya, mematikan dan menghidupkan, menyesatkan dan memberikan petunjuk... Pendapat yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa segala sesuatu itu terjadi dengan qadha' dan qadar Allah dan bahwa Allah adalah yang menciptakan perbuatan hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ﴾
"Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar: 49)
Dan bahwa Allah Ta'ala menginginkan kekafiran dari orang kafir dan menghendakinya, tetapi Dia tidak meridhai dan tidak menyukai kekafiran itu. Dia menghendakinya menurut kain dan tidak meredhainya menurut agama."
41
Syarh ath-Thahaawiyyah (1/320, 321) karya Ibnu Abil 'Izz.
Saya katakan: Iradah ini adalah iradah kauniyyah qadariyyah (masyii-ah/kehendak).
Adapun kehendak-Nya terhadap keimanan seorang mukmin serta seluruh amal kebajikan, maka itu adalah iradah kauniyyah qadariyyah syar'iyyah (mahabbah/cinta).
Setiap perbuatan hamba, baik berupa ketaatan dan kemaksiatan serta kekufuran dan keimanan, itu semua terjadi pada mereka dengan kehendak Allah Ta'ala.
Inilah makna dari ungkapan: "Apa yang Allah kehendaki, pasti terjadi; dan apa yang tidak Dia kehendaki, tidak akan terjadi."
تعليقات