AQIDAH THAHAWIYAH

 - وَلَا تَثْبُتُ قَدَمُ الْإِسْلَامِ إِلَّا عَلَى ظَهْرِ التَّسْلِيمِ وَالْإِسْتِسْلَامِ


48. Tidak akan kokoh sendi-sendi keislaman seseorang kecuali ditegakkan di atas ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah.


٤٩- فَمَنْ رَامَ عِلْمَ مَا حُظِرَ عَنْهُ عِلْمُهُ، وَلَمْ يَقْنَعُ بِالتَّسْلِيمِ فَهْمُهُ؛ حَجَبَهُ مَرَامُهُ عَنْ خَالِصِ التَّوْحِيدِ، وَصَافِي الْمَعْرِفَةِ وَصَحِيحِ الْإِيْمَانِ فَيَتَذَبْذَبُ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيْمَانِ، وَالتَّصْدِيقِ وَالتَّكْذِيبِ، وَالْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ، مُوَسْوَسًا، تَائِهَا، شَاكًّا، زَائِغّا، لَا مُؤْمِنًا مُصَدِّقًا، وَلَا جَاحِدًا مُكَذِّبًا.



49. Barangsiapa yang menginginkan ilmu yang dilarang untuk diketahui dan pemahamannya tidak merasa cukup puas dengan hanya berlandaskan ketundukan pada syari'at saja, maka keinginannya itu akan menghalanginya dari mendapatkan kemurnian tauhid, kejernihan pemahaman, dan kebenaran iman; dia berada dalam posisi yang ragu antara keimanan dan kekafiran, antara membenarkan dan mendustakan, antara mengakui dan mengingkari; dia berada dalam keadaan waswas, bingung (ragu), dan sesat. Orang seperti itu tidak tergolong sebagai orang mukmin yang membenarkan dan bukan pula sebagai penentang yang mendustakan.


... وَلَا يَصِحُ الْإِيْمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ، لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهُم أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ، وَتَأْوِيلَ كُلِّ مَعْنَى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوْبِيَّةِ، بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوْمِ التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ.


50. Tidak dianggap sah (benar) keimanan terhadap ru'yah (penghuni Surga akan melihat Allah) bagi mereka yang menganggapnya dengan penggambaran tertentu atau mentakwilnya dengan pemahaman yang keliru, sebab takwil (yang benar) tentang ru'yah dan sifat-sifat Rububiyyah Allah lainnya adalah meninggalkan takwil (yang salah) dan senantiasa tunduk dan pasrah pada berita yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang menjadi sandaran utama agama kaum Muslimin.


٥١ - وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيْهَ، زَلَّ وَلَمْ يُصِبِ التَّنْزِيهَ، فَإِنَّ رَبَّنَا جَلَّ وَعَلَا مَوْصُوْفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِ، مَنْعُوْتٌ بِنُعُوْتِ الْفَرْدَانِيَّةِ، لَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِ

51. Barangsiapa tidak menjauhi tindakan menafikan Sifat-sifat Allah dan menyerupakan Sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, maka ia akan tergelincir dan tidak benar pensuciannya terhadap Allah karena Allah جل وعلا disifati dengan sifat-sifat keesaan dan sifat-sifat ke-Maha Tunggalan. Sesungguhnya Rabb kami (Allah( سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memiliki Sifat-sifat Esa dan Maha Tunggal, yang tidak dimiliki oleh siapa pun di antara makhluk-Nya.


PENJELASAN:


Imam ath-Thahawi رحمة الله berkata: "Tidak dianggap sah (benar) keimanan terhadap ru'yah (ahlul Jannah akan melihat Allah) bagi mereka yang menganggapnya dengan penggambaran tertentu..."


Maksudnya, menduga-duga bahwa Allah akan dilihat dengan sifat (gambaran) seperti ini dan itu sehingga ia menduganya sebagai bentuk penyerupaan.


Perkataan beliau: "Atau mentakwilnya dengan pemahaman yang keliru."


Maksudnya, ia mendakwakan bahwa ia memahami ru'yah itu dengan takwil yang menyelisihi zhahirnya, dan menyelisihi makna yang difahami oleh semua orang Arab.


Perkataan beliau: "Maka akan tergelincir dan tidak benar pensuciannya terhadap Allah."

  Hal itu, karena Mu'tazilah menyangka bahwa mereka mensucikan Allah Ta'ala dengan penafian ini. Apakah pensucian itu dengan cara menafikan sifat-sifat kesempurnaan? Menafikan ru'yah bukanlah sifat kesempurnaan karena sesuatu yang tidak ada, itulah yang tidak bisa dilihat. Sesungguhnya sifat kesempurna-an itu hanyalah ada dengan menetapkan ru'yah.

تعليقات

المشاركات الشائعة من هذه المدونة

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB TAUHID AHLUS SUNNAH WALJAMAAH

KUMPULAN DAFTAR NAMA KITAB - KITAB AQIDAH AHLUS SUNNAH WALJAMAAH