AQIDAH THAHAWIYAH
۷۸- وَنُسَبِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِيْنَ مُؤْمِنِينَ، مَا دَامُوْا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِيْنَ.
78. Kami menamai para ahli Kiblat⁵¹ sebagai Muslimin Mukminin selama mereka mengakui dan membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
51 Al-'Allamah Ibnu Abil Izzرَحِمَهُ اللّٰهُ berkata: "Maksud dari perkataan beliau, Whi kiblat,' ialah setiap orang yang mengaku beragama Islam dan menghadap Ka'bah kendati ia adalah termasuk para pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah) atau termasuk para pelaku dosa besar selama ia tidak mendustakan syari'at yang dibawa oleh Rasulullah." (Lihat Syarh al-'Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hlm. 313) takhrij Syaikh al-Albani) dan akan datang penjelasan Syaikh Ibnu Mani',-Penj
۷۹- وَلَا نَخُوضُ فِي اللّٰهِ، وَلَا نُمَارِي فِي دِيْنِ اللّٰهِ.
79. Kami tidak bertele-tele dalam membicarakan (tentang Sifat-sifat) Allah tanpa ilmu dan kami tidak berdebat tentang agama Allah.
PENJELASAN:
Imam ath-Thahawi رَحمَهُ اللهُ berkata: "Mengakui dan membenarkan apa yang dibawa dan dikabarkan oleh " . صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Nabi
Pembenaran dan pengakuan saja belumlah cukup dalam Islam dan iman yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Islam dan Iman merupakan poros kebahagiaan, dan keduanya disebutkan dalam hadits Jibril عَلَيه السلام yang terkenal⁵² yang menghimpun pembenaran, pengakuan (penetapan), dan amal.
52 Shahih: HR. Muslim (no. 8 (1)) dari hadits 'Umar رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ
تعليقات