AQIDAH THAHAWIYAH

 ٧٠-وَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ: أَنَّ اللَّهَ قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنِ مِنْ خَلْقِهِ، فَقَدَّرَ ذَلِكَ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًا، لَيْسَ فِيهِ نَاقِضُ وَلَا مُعَقِّبٌ، وَلَا مُزِيْلٌ، وَلَا مُغَيِّرُ، وَلَا مُحَوّلُ، وَلَا نَاقِصُ، وَلَا زَائِدُ مِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِ.

70. Seorang hamba wajib untuk mengetahui bahwa ilmu Allah telah mendahului segala sesuatu yang akan terjad atas seluruh makhluk-Nya. Allah telah menentukan takdir makhluk-Nya itu secara pasti; tidak ada yang membatalkan menolak, menghapus, dan merubah. Tidak ada penambahan dan pengurangan terhadap ketentuan makhluk Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi.


۷۱- وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الْإِيْمَانِ، وَأُصُولِ الْمَعْرِفَةِ، وَالْاِعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ -اللَّهِ تَعَالَى وَرُبُوْبِيَّتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ﴿ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا ﴾ [الفُرْقَانِ :٢] ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿ ... وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ -قَدَرًا مَقْدُورًا ﴾ [الْأَحْزَابِ : ٣٨].


71. Dan hal itu merupakan ikatan iman, dasar-dasar pengetahuan ('aqidah), dan pengakuan terhadap tauhid uluhiyyah dan rububiyyah Allah Ta'ala. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta'ala: "Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat." (QS. Al-Furqaan: 2) Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku." (QS. Al-Ahzaab: 38).


٧٢ - فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ تَعَالَى فِي الْقَدَرِ خَصِيْمًا، وَأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيهِ قَلْبًا سَقِيمًا، لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الْغَيْبِ سِرًّا كَتِيْمًا، وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيْهِ أَفَّاكًا أَثِيمًا.

72. Celakalah bagi siapa yang menjadi musuh Allah Ta'ala dengan hati yang tidak bersih (sakit). Sungguh ia meneliti perkara ghaib yang merupakan rahasia tersembunyi hanya berdasar dugaan. Akhirnya, dengan sebab tersebut dia (kembali kepada Allah) menjadi orang yang sangat pendusta dan berdosa.(Ada juga nuskhah (naskah) dengan lafazh lain).


PENJELASAN:


Imam ath-Thahawi رحمه الله berkata: "Seorang hamba wajib untuk mengetahui bahwa ilmu Allah telah mendahului segala sesuatu yang akan terjadi atas seluruh makhluk-Nya..."


Di dalam pernyataan ini terdapat bantahan bagi golongan Mu'tazilah yang ekstrim yang mengingkari keadaan Allah Yang Maha Mengetahui sejak azali, dan mereka mengatakan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mengetahui perbuatan hamba-hamba-Nya hingga si hamba itu melakukannya." Mahasuci Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar dari apa yang mereka katakan dengan sebesar-besar pensucian!!


Allah Ta'ala berfirman:


أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ)

"Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui." (QS. Al-Mulk: 14)


Perkataan beliau: "Dan hal itu merupakan ikatan iman."


Ini merupakan isyarat dari apa yang telah disebut-kan sebelumnya berupa iman kepada takdir dan ilmu Allah terhadap semua yang terjadi yang mendahului penciptaan makhluk-Nya.


Perkataan beliau: "Dan pengakuan terhadap tauhid uluhiyyah dan rububiyyah Allah."


Maksudnya, tauhid dan pengakuan terhadap rububiyyah Allah itu tidak sempurna kecuali dengan mengimani Sifat-sifat Allah Ta'ala. Karena, orang yang mendakwahkan adanya pencipta selain Allah, ia telah berbuat syirik, lantas bagaimana dengan orang yang mendakwahkan bahwa setiap orang itu menciptakan perbuatannya sendiri?! Oleh sebab itulah, kaum Qadariyyah disebut sebagai Majusinya ummat ini.


Perkataan beliau: "Sungguh ia meneliti perkara ghaib yang merupakan rahasia tersembunyi hanya berdasar dugaan."


Maksudnya, dengan dugaannya itu ia mencari (meneliti) perkara yang ghaib yang merupakan rahasia tersembunyi. Karena takdir adalah rahasia Allah atas makhluk-Nya. Dengan demikian, membahasnya (tanpa ilmu) berarti berusaha melihat perkara yang ghaib.

   Padahal Allah Ta'ala telah berfirman:


﴿عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَسُولِ﴾ ...


"Dia mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memper-lihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya..." (QS. Al-Jinn: 26-27)


Perkataan beliau: "Akhirnya, dengan sebab perkataan tersebut..."


Maksudnya, perkataannya tentang takdir.


Affaakan artinya kadzdzaaban (sangat pendusta) dan alsiiman artinya ma'tsuuman (berdosa). Selesai dari Syarh Thahaawiyyah libni Abil 'Izz (II/363-364). Kalimat yang berada dalam kurung (Kadzdzaaban) adalah tambahan darinya.

تعليقات

‏قال BELAJAR BAHASA ARAB
Kapan di rampungkan ?

المشاركات الشائعة من هذه المدونة

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB TAUHID AHLUS SUNNAH WALJAMAAH

KUMPULAN DAFTAR NAMA KITAB - KITAB AQIDAH AHLUS SUNNAH WALJAMAAH