SYARAH QOTRUL GHOIST

 XII. MASALAH IMAN KEPADA TAKDIR


Jika anda ditanya: "Bagaimana anda beriman kepada takdir yang baik dan buruk itu dari Allah Ta'ala ?". Jawabnya anda katakan: "Bahwasanya Allah Ta'ala menciptakan para makhluk untuk taat dan melarang berbuat jahat. Lalu menciptakan Lauh, yaitu papan dari intan putih panjangnya antara langit dan bumi. Lebarnya antara arah Timur dan Barat. Bingkainya dibuat dari berlian dan yakut. Kedua sampulya berupa yakut merah. Pangkalnya berada di tempat malaikat yang berada di angkasa di atas langit.


Ibnu Abbas mengatakan Pengantar tulisan pada Lauh Mahfudh


adalah:


لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ ، دِينُهُ الإِسْلَامُ وَ مُحَمَّدٌعَبْدُهُ وَرَسُولَهُ.


Artinya:


"Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa, Islam Agama-Nya, Muhammad adalah hamba dan urusan-Nya.


Orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan ancaman-Nya serta mengikuti Rasul-Nya akan dimasukkan Surga. Allah menciptakan Qalam dari nur atau cahaya. Panjangnya antara langit dan bumi.


Menurut riwayat Ibnu Abbas, bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Qalam, lalu Allah mengatakan" "Menulislah! Qalam menjawab: "Apa yang saya tulis ?". Allah berfirman: "Segala yang ada dan yang akan ada hingga hari kiamat, yaitu: amal, ajal, rizki, dan kejelekan". Lalu Qalam berjalan sendiri menulis apa saja yang akan ada hingga hari kiamat.


Imam Mujahid meriwayatkan Hadits: "Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah Ta'ala adalah Qalam". Allah berfirman: "Wahai Qalam, engkau menulis apa yang Aku tentukan". Maka Qalam menuliskan apa yang akan wujud hingga hari kiamat. Apa saja yang berlaku pada manusia juga berlaku pada ketetapan yang telah diselesaikan. Demikian maksud pengarang menyebutkan "Allah memerintahkan Lauh dan Qalam agar mencatat seluruh amal para hamba". Allah Ta'ala berfirman:


إِنَّا كُل شَيْءٍ خَلَقْنَهُ بِقَدَرٍ ( اَلْقَمَرُ ٩٨ )


Artinya:


"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran".


(QS. 54 Al Qamar: 49)


Maksudnya Allah menciptakan segala sesuatu itu baik makhluk besar maupun kecil dengan ketentuan dan ketetapan hukum serta ukuran yang dibatasi, bagian yang dibatasi, kekuatan yang sempurna dan mengatur secara rapi pada waktu yang ditentukan dan tempat yang dibatasi. Semuanya itu ditetapkan pada Lauh Mahfudh. Allah Ta'ala berfirman:


Artinya:


وَكُلُّ صَغِيرِ وَكَبَيْرِ مُسْتَطَرُ ( القمَرُ:٥٣ )


"Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis".


(QS. 54 Al Qamar: 53)


Maksudnya, segala urusan makhluk yang besar dan yang kecil beserta amalnya dan ajalnya telah tertulis pada Lauh (Papan) yang terjaga dari syetan, dari penambahan dan pengurangan. Nabi ﷺ. bersabda:


كتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الخَلَائِقِ كُلِّهَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوتِ وَالْأَرْضِ بِخَمْسِينَ الْفِ عَامٍ


Artinya:




"Allah telah menetapkan ketentuan para makhluk semuanya sebelum menciptakan langit dan bumi terpaut lima puluh ribu tahun".[ HR. MUSLIM nomor : 2653


Nabi ﷺ. juga bersabda:


لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعَةِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ بَعَثْنِي بِالْخَلْقِ وَيُؤْمِنُ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَيُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ


Artinya:


Seorang hamba tidak sempurna imannya sehingga ia beriman kepada empat perkara Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, aku diutus Allah untuk seluruh makhluk, beriman kepada ketentuan yang baik dan buruk".[ HR. TIRMIDZI nomor : 2144 ]


Ta'at kepada Allah adalah perbuatan yang berpahala karena ada ketetapan dari Allah dan ketentuan pada zaman azali, yaitu sebelum Allah menciptakan makhluk. Keta'atan juga dikehendaki Allah dan perbuatan yang diperintahkan, diridhai, dan dicintai Allah.


Menurut sementara Ulama, bahwa yang disebut Qadla' adalah kehendak Allah sejak zaman azali yang berhubungan dengan seluruh perkara yang ada. Sedangkan Qadar adalah perwujudan kehendak Allah dari semua makhluk sesuai ilmu Allah. Maka Qadla' itu ibarat pondasi, dan Qadar bangunan. Qadla' ibarat alat takar, sedangkan Qadar ibarat barang yang ditakar. Qadla' ibarat pakaian, sedangkan Qadar ibarat memakai pakaian. Qadla ibarat gambar tukang ukir yang ada pada pikiran-nya, sedangkan Qadar ibarat ukirannya.


Maksiat adalah perbuatan yang disiksa dengan ketetapan Allah Ta'ala, ketentuan-Nya, dan kehendak-Nya sejak zaman azali, tidak dengan perintah-Nya, tidak diridlai, tidak dicintai dan tidak dari pertolongan Allah.


Ketahuilah, makna perintah itu bukan menunjukkan arti menghendaki. Kadang perintah itu terlepas dari kehendak. Seperti anak seorang. Hakim membunuh orang dengan sengaja. Dalam hal ini Hakim harus menyuruh membunuh anaknya, sebab ia membunuh orang lain. Tetapi hakim ini tidak menghendaki.


Arti ridla adalah menerima suatu perkara dan memberi pahala atau meninggalkan menyiksa. Adapun perkara yang diperbolehkan itu tidak diperintahkan oleh Allah. Jadi segala perkara yang diketahui Allah bakal terjadi itu Allah pasti menghendaki terjadinya. Baik Allah memerintah-kan maupun tidak.


Ketahuilah, bahwa orang kafir itu diperintahkan beramal sebagaimana ia diperintahkan beriman. Demikian menurut Ulama' Syafi'iyah (Madzbab Syafi'i). Berbeda dengan Imam Hanafi yang mengatakan: "Orang kafir itu tidak diperintahkan untuk beramal, tetapi dia diperintahkan untuk beriman". Dasarnya adalah firman Allah Ta'ala:

يٓايُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ( النساء (١ )


Artinya:


"Hai manusia, bertakwalah (takutlah) kepada Tuhanmu.


(QS. 4 An-Nisa': 1)


Menurut Tafsir Hanafi makna "Hai manusia, bertakwalah (takutlah) kepada Tuhanmu (Allah)" adalah: Hai orang-orang yang beriman taat-lah; Hai orang-orang kafir, berimanlah; Hai orang-orang munafik ikhlas-lah! Karena manusia itu ada tiga macam yaitu


1. Orang mukmin yang murni imannya, yaitu orang yang menyatakan dengan lisannya, membenarkan dalam hatinya dan melakukan amal perbuatan dengan anggota badannya.


2. Orang kafir yang kejam pada kekufurannya, yaitu orang yang tidak mau mengakui dengan lisannya dan tidak mempercayai dalam hatinya.


3. Orang munafik yang menghias kemunafikannya, yaitu orang yang mengakui dalam lisannya dan tidak membenarkan dalam hatinya, serta berpura-pura beserta orang mukmin.


Semua manusia diberi pahala karena keta'atannya, dan disiksa karena maksiatnya. Semua pahala dan siksa itu dengan janji dan ancaman Allah. Janji Allah untuk keta'atan dan ancaman Allah untuk maksiat. Allah berfirman:


فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَأَثَرَ الحَيَوةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ المَأْوَى * وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأوى ( النازعات ٣٧ - ٤ )


Artinya:


"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerekalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari kepentingan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya".


(QS. 79 An Nazi'at: 37-41)

تعليقات

المشاركات الشائعة من هذه المدونة

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB TAUHID AHLUS SUNNAH WALJAMAAH

KUMPULAN DAFTAR NAMA KITAB - KITAB AQIDAH AHLUS SUNNAH WALJAMAAH