SYARAH QOTRUL GHOIST
VI. MASALAH IMAN KEPADA NABI
Jika ditanyakan kepadamu: "Bagaimana kamu beriman kepada para Nabi ?", maka jawablah: "Bahwa Nabi yang pertama adalah Adam as namanya As-Syarif dengan sebutan Abul Basyar dan samarannya Shafiyullah. Sesudah Nabi Muhammad ﷺ, sudah tidak ada nabi lagi",
Para nabi menyampaikan berita ghaib, seperti hari kiamat dan ihwalnya, pembangkitan manusia dari kuburnya, penghalauan dan pengumpulan manusia di mahsyar untuk dihisab dan dibalas amalnya, adanya syafa'at, timbangan amal, akhirat, surga, neraka dan yang lain.
Mereka memberikan nasehat dengan benar, tidak pernah menipu kaumnya dari apa yang diberitakan dan didakwahkan. Mereka menyampaikan hukum-hukum Allah kepada para ummatnya karena mereka diperintahkan untuk menyampaikannya. Mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan melarang kemaksiatan.
Para Rasul adalah manusia-manusia yang dipercaya oleh Allah Ta'ala untuk menyampaikan wahyu-Nya, yaitu pengetahuan rahasia yang datangnya dari Allah untuk para Nabi-Nya sesuai yang dikehendaki, dengan perantaraan kitab atau mengutus malaikat melalui mimpi dalam tidur atau dengan ilham atau tanpa perantaraan. Seperti yang terJadi pada diri Nabi Muhammad ﷺ. di malam Isra' tentang perintah shalat fardlu lima waktu diterima secara langsung dari Allah tanpa perantara.
Para nabi juga terjaga dari "zilal" yaitu kesalahan. Yang dimaksud "zilal" adalah dosa-dosa kecil. Lafadh "zilal" adalah lafadh jamak dari "zillah", demikian menurut Muhammad Al Jauhari dalam komentar kitab Nadham Jazairiyyah. Lafadh "zalal" itu pasti masdar dari "zalla yazillu" dari bab "alima" dan "dlaraba" sebagaimana tersebut dalam kamus dan Al Mishbah.
Mereka juga terjaga dari dosa-dosa besar baik lahir maupun batin-nya, bahkan terjaga dari perkara terlarang sekalipun secara makruh sejak masa kecilnya. Seperti yang disebutkan Syaikh Ahmad Dardiri berdasarkan pendapat mayoritas Ulama sebagai pendapat yang benar: "Bahwasanya para Nabi terpelihara dari dosa besar dan dosa kecil sebelum mereka diangkat menjadi Nabi dan sesudahnya".
Jadi kita wajib mempercayai dan meyakini dengan seteguh hati kalau para nabi itu terjaga dari dosa, sebagaimana pendapat Ahmad AlBili. Kemudian mencintai para nabi merupakan syarat sah iman, membenci mereka adalah kufur.
تعليقات