المشاركات

عرض المشاركات من مارس, 2025

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٩٢- وَالْإِيْمَانُ وَاحِدٌ، وَأَهْلُهُ فِي أَصْلِهِ سَوَاءٌ، وَالتَّفَاضُلُ بَيْنَهُمْ بِالْخَشْيَةِ وَالتَّقَى، وَمُخَالَفَةِ الْهَوَى، وَمُلَازَمَةِ الْأَوْلَى. 92. Iman adalah satu, dan orang-orang yang beriman pada pokok keimanannya adalah sama, perbedaan tingkat keutamaan di antara mereka terletak pada khasy-yaho (rasa takut) dan takwa (kepada Allah), penyelisihan mereka terhadap hawa nafsu dan komitmen terhadap perkara yang paling utama. ⚫ Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz رَحَهُ اللهُ berkata: Beliau mengatakan: "Iman adalah satu dan orang-orang yang beriman pada asalnya adalah sama." Perkataan ini perlu ditinjau kembali, bahkan pernyataan ini adalah bathil!! Orang-orang beriman tidak sama kedudukannya antara satu dengan lainnya. Peringkat orang-orang beriman sangat jauh berbeda, keimanan para Rasul tidak akan sama dibanding keimanan selainnya, keimanan Khulafa-ur Rasyidin dan keimanan para Shahabatرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْtidak sama dibanding keimanan selain mereka....

AQIDAH THAHAWIYAH

 ۹۱ - وَجَمِيعُ مَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الشَّرْعِ وَ الْبَيَانِ كُلُّهُ حَقٌّ 91. Segala sesuatu yang diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah ﷺ baik yang berupa syari'at atau penjelasan semuanya adalah benar. PENJELASAN: Imam ath-Thahawi رَحمه الله berkata: "Segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ..." Beliau maksudkan sebagai bantahan terhadap semua kelompok Jahmiyyah Mu'aththilah, Mu'tazilah, dan Rafidhah yang mengatakan bahwa kabar itu terbagi menjadi dua jenis: mutawatir dan ahad. Kabar yang mutawatir, meskipun sanadnya qath'i (pasti), tetapi tidak pasti dalam penunjukkannya. Karena dalil-dalil yang bersifat lafzhi (berbentuk ucapan) tidak membuah-kan keyakinan. Karena itulah, mereka mencela berdalil dengan Al-Qur-an dalam menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala. Mereka mengatakan: "Kabar ahad membuahkan ilmu," tetapi dari sisi matan (teks)nya mereka tidak mau...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٩٠- وَالْإِيْمَانُ هُوَ الْإِقْرَارُ بِالنِّسَانِ، وَالتَّصْدِيقُ بِالْجَنَانِ. 90. Iman adalah ucapan dengan lisan dan pembenaran dalam hati. • Syaikh 'Abdul Aziz bin Baaz رحمه الله berkata: Definisi ini perlu ditinjau kembali dan masih kurang!! Yang benar adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa iman adalah perkataan, perbuatan, dan keyakinan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dalil-dalil tentang itu dari Al-Qur-an dan As-Sunnah terlalu banyak untuk dihitung. Pensyarah kitab ath-Thahaawiyyah, Ibnu Abil 'Izz telah menyebutkan sejumlah dalil-dalil tersebut, jika mau silakan Anda merujuk padanya. Sedang mengeluarkan amal perbuatan dari nama iman adalah pendapat Murji-ah. Perbedaan pendapat antara Murji-ah dan Ahlus Sunnah tentang iman bukanlah tentang lafazh saja, bahkan tentang lafazh dan maknanya, dan banyak hukum-hukum yang terlahir darinya. Siapa yang memperhatikan dengan seksama pendapat Ahlus Sunnah dan pendapat Murji-ah, maka ia pasti ...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ۸۹ - وَلَا يَخْرُجُ الْعَبْدُ مِنَ الْإِيْمَانِ إِلَّا بِجُحُوْدِ مَا أَدْخَلَهُ فِيهِ 89. Seorang hamba tidak dianggap keluar dari iman (Islam) kecuali karena juhud (mengingkari)59 hal-hal yang memasuk-kan dirinya ke dalam keimanan tersebut. - Juhud ) جحود ( artinya mengingkari padahal ia mengetahui. جَحَدَ الْأَمْر ،"Dia juhud terhadap sesuatu," yaitu jika ia mengingkarinya bersamaan dengan pengetahuannya terhadap hal itu. Lihat al-Mu'jamul Wasith, hlm. 107. Penj * Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz رحمه الله berkata: Pembatasan ini masih perlu ditinjau kembali. Karena sesungguhnya orang kafir bisa masuk Islam lantaran mengucapkan dua kalimat syahadat jika dia belum mengucapkannya. Namun apabila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia bisa masuk Islam dengan bertaubat dari kekafiran. Ter-kadang, seseorang bisa juga keluar dari Islam karena beberapa sebab selain juhud (mengingkari), hal ini telah banyak diterangkan oleh para ahlul ilmi dalam bab "hukum m...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٨٨-وَالْأَمْنُ وَالْإِيَاسُ يَنْقُلَانِ عَنْ مِلَّةِ الْإِسْلَامِ، وَسَبِيلُ الْحَقِّ بَيْنَهُمَا لِأَهْلِ الْقِبْلَةِ. 88. Merasa aman dari ancaman Allah dan berputus asa dari ampunan-Nya adalah dua perbuatan yang dapat mengeluar kan seseorang dari agama Islam. Sikap (jalan yang benar bagi ahlul Kiblat (kaum Muslimin) adalah tengah-tengah di antara kedua sikap tersebut. PENJELASAN: Pensyarah kitab ath-Thahaawiyyah (Ibnu Abil 'Izz) berkata: "Wajib bagi seorang hamba agar selalu dalam keadaan takut dan harap. Karena takut yang terpuji dan benar ialah rasa takut (kepada Allah) yang dapat menghalangi antara seseorang dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Jika ia melampaui rasa takut tersebut, dikhawatirkan ia berputus asa (dari rahmat Allah). Dan rasa harap yang terpuji ialah rasa harap seseorang yang telah mengerjakan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah (yakni atas dasar keimanan-Penj), maka ia mengharapkan pahalanya, atau seseorang yang melakukan dosa kemu...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٨٦ - نَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ. 86. Kami berharap bagi para muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan) dari kalangan mukminin agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke dalam Surga dengan rahmat-Nya. Kami tidak merasa aman atas ancaman Allah bagi mereka, dan kami tidak memastikan mereka dengan Surga. ⚫ Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz رَحِمَهُ اللّٰهُ berkata: Maksud beliau yaitu kecuali orang yang oleh Rasulﷺ sudah dipersaksikan dengan Surga, seperti sepuluh Shahabat, dan yang semisal mereka, sebagaimana penjelasan beliau pada akhir pembahasan kitabnya. Selain itu sudah dimaklumi, bahwa sesungguhnya merupakan bagian dari 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yaitu, mempersaksikan bagi para Mukminin dan Muttaqin bahwa secara umum, mereka adalah penghuni Surga. Adapun orang-orang kafir musyrik dan munafik, mereka ad...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٨٥ - وَلَا تَقُوْلُ: لَا يَضُرُّ مَعَ الْإِيْمَانِ ذَنْبٌ لِمَنْ عَمِلَهُ. 85. Kami tidak mengatakan bahwasanya dosa tidak membahayakan keimanan orang yang melakukannya. PENJELASAN: Imam ath-Thahawi رحمة الله berkata: "Kami tidak mengatakan bahwa dosa tidak membahayakan keimanan orang yang melakukannya." Perkataan ini beliau maksudkan sebagai bantahan terhadap Murji-ah yang mengatakan bahwa dosa itu tidak membahayakan selama ada iman sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bersama kekafiran. Mereka (Murji-ah) berada pada satu sisi dan Khawarij pada satu sisi lainnya karena Khawarij mengatakan bahwa seorang Muslim menjadi kafir karena melakukan setiap dosa atau karena melakukan setiap dosa besar. Demikian pula Mu'tazilah yang mengatakan bahwa iman seorang Muslim terhapus seluruhnya karena melakukan dosa besar, tidak tersisa iman sedikit pun padanya. Akan tetapi, Khawarij mengatakan bahwa orang itu keluar dari iman dan masuk dalam kekafiran. Sedang Mu'tazilah mengatakan ...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٨٤- وَلَا نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِذَنْبِ، مَا لَمْ يَسْتَحِلَّهُ. 84. Kami tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat karena dosa-dosa yang dilakukan, selama dia tidak menghalalkan perbuatan dosa tersebut. • Syaikh 'Abul 'Aziz bin Baaz رحمة الله berkata: Perkataan beliau: "Kami tidak mengkafirkan seorang pun dari ahlul kiblat karena dosa yang mereka kerjakan selama mereka tidak menghalalkannya." Maksud beliau رحمه الله ialah bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak meng-kafirkan seorang Muslim yang bertauhid serta beriman kepada Allah dan hari Akhir. Seseorang tidak dikafirkan karena perbuatan dosa yang dilakukan, misalnya dosa zina, minum khamr, riba, durhaka kepada kedua orang tua, dan sejenisnya, selama pelakunya tidak menganggap halal perbuatan tersebut. Namun apabila pelakunya telah menganggap halal terhadap perbuatannya, maka dia menjadi kafir, karena berarti dia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta keluar dari agama. Apabila dia...

AQIDAH THAHAWIYAH

 وَلَا نُجَادِلُ فِي الْقُرْآنِ. 80. Kami tidak berbantah-bantahan tentang Al-Qur-an. -۸۱- وَنَشْهَدُ أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ، فَعَلَّمَهُ سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ أَجْمَعِينَ. 81. Dan kami bersaksi bahwa Al-Qur-an adalah kalam (perkataan) Allah, Rabb semesta alam, dibawa oleh ar-Ruuhul amiin (malaikat Jibril) yang dia ajarkan kepada penghulu para Rasul, Muhammad (semoga shalawat Allah atas beliau dan seluruh keluarganya). ۸۲ - وَهُوَ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى لَا يُسَاوِيْهِ شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ الْمَخْلُوقِينَ. 82. Al-Qur-an adalah firman Allah. Tidak ada satu pun perkataan makhluk-Nya yang menyamai firman Allah. ۸۳- وَلَا نَقُوْلُ بِخَلْقِهِ، وَلَا نُخَالِفُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ. 83. Kami tidak mengatakan bahwasanya Al-Qur-an adalah makhluk, juga kami tidak boleh menyelisihi jama'ah kaum Muslimin. PENJELASAN: Imam ath-Thahawi رحمة الله mengatakan: "Kami tidak mengatakan bahwa Al-Qur-an...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ۷۸- وَنُسَبِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِيْنَ مُؤْمِنِينَ، مَا دَامُوْا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِيْنَ. 78. Kami menamai para ahli Kiblat⁵¹ sebagai Muslimin Mukminin selama mereka mengakui dan membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . 51 Al-'Allamah Ibnu Abil Izzرَحِمَهُ اللّٰهُ berkata: "Maksud dari perkataan beliau, Whi kiblat,' ialah setiap orang yang mengaku beragama Islam dan menghadap Ka'bah kendati ia adalah termasuk para pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah) atau termasuk para pelaku dosa besar selama ia tidak mendustakan syari'at yang dibawa oleh Rasulullah." (Lihat Syarh al-'Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hlm. 313) takhrij Syaikh al-Albani) dan akan datang penjelasan Syaikh Ibnu Mani',-Penj ۷۹- وَلَا نَخُوضُ فِي اللّٰهِ، وَلَا نُمَارِي فِي دِيْنِ اللّٰهِ. 79. Kami tidak bertele-tele dalam membicarakan (tentang Sifat-s...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٧٣- وَالْعَرْشُ وَالْكُرْسِيُّ حَقٌّ. 73. Adanya 'Arsy dan Kursi adalah benar. ٧٤- وَهُوَ مُسْتَغْنِ عَنِ الْعَرْشِ وَمَا دُوْنَهُ. 74. Allah tidak membutuhkan 'Arsy dan apa saja yang ada di bawahnya. -٧٥ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ، وَقَدْ أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ. 75. Allah meliputi segala sesuatu dan Dia di atas segala sesuatu, dan Dia tidak memberikan kepada makhluk-Nya kemampuan untuk meliputi segala sesuatu. ٧٦- وَنَقُوْلُ: إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيْلًا، وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا، إِيْمَانًا وَتَصْدِيقًا وَتَسْلِيمًا. 76. Kami mengatakan bahwa Allah telah menjadikan Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ sebagai kekasih-Nya, dan Allah telah berbicara dengan Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ secara langsung. Kami meyakininya dengan penuh keimanan, pembenaran, dan ketundukan. ۷۷- وَنُؤْمِنُ بِالْمَلَائِكَةِ، وَالنَّبِيِّينَ، وَالْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَنَشْهَدُ أَنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْحَقِّ الْمُبِيْنِ. 77. Kami mengimani p...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٧٠-وَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ: أَنَّ اللَّهَ قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنِ مِنْ خَلْقِهِ، فَقَدَّرَ ذَلِكَ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًا، لَيْسَ فِيهِ نَاقِضُ وَلَا مُعَقِّبٌ، وَلَا مُزِيْلٌ، وَلَا مُغَيِّرُ، وَلَا مُحَوّلُ، وَلَا نَاقِصُ، وَلَا زَائِدُ مِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِ. 70. Seorang hamba wajib untuk mengetahui bahwa ilmu Allah telah mendahului segala sesuatu yang akan terjad atas seluruh makhluk-Nya. Allah telah menentukan takdir makhluk-Nya itu secara pasti; tidak ada yang membatalkan menolak, menghapus, dan merubah. Tidak ada penambahan dan pengurangan terhadap ketentuan makhluk Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. ۷۱- وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الْإِيْمَانِ، وَأُصُولِ الْمَعْرِفَةِ، وَالْاِعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ -اللَّهِ تَعَالَى وَرُبُوْبِيَّتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ﴿ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا ﴾ [الفُرْقَانِ :٢] ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿ ... وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ -قَدَرًا مَقْدُورًا ﴾ [الْأَح...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٦٧- وَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالْقَلَمِ وَبِجَمِيعِ مَا فِيْهِ قَدْ رُقِمَ. 67. Kami mengimani adanya Lauh Mahfuzh, Qalam, dan segala sesuatu yang telah ditulis di dalam Lauh Mahfuzh. ٦٨ - فَلَوِ اجْتَمَعَ الْخَلْقُ كُلُّهُمْ عَلَى شَيْءٍ كَتَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ أَنَّهُ كَائِنُ، لِيَجْعَلُوْهُ غَيْرَ كَائِن؛ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهِ وَلَوِ اجْتَمَعُوْا كُلُّهُمْ عَلَى شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِن لِيَجْعَلُوْهُ كَائِنَا؛ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهِ. جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. 68. Sekiranya seluruh makhluk berkumpul untuk melakukan sesuatu yang telah Allah Ta'ala tetapkan akan terjadi agar tidak terjadi, pasti mereka tidak akan mampu melakukannya. Demikian juga sekiranya semua makhluk berkumpul untuk melakukan sesuatu yang Allah Ta'ala tetapkan tidak akan terjadi, agar terjadi, maka pastilah mereka tidak akan mampu melakukannya. Telah kering pena untuk menulis segala ketetapan yang akan terjadi hingga hari ...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٦٦ - فَهَذَا جُمْلَهُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مَنْ هُوَ مُنَوَّرٌ قَلْبُهُ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَهِيَ دَرَجَةُ الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ؛ لِأَنَّ الْعِلْمَ عِلْمَانِ عِلْمٌ فِي الْخَلْقِ مَوْجُودُ، وَعِلْمٌ فِي الْخَلْقِ مَفْقُوْدٌ. فَإِنْكَارُ الْعِلْمِ الْمَوْجُوْدِ كُفْرُ، وَادِّعَاءُ الْعِلْمِ الْمَفْقُوْدِ كُفْرُ، وَلَا يَثْبُتُ الْإِيْمَانُ إِلَّا بِقَبُوْلِ الْعِلْمِ الْمَوْجُودِ وَتَرْكِ طَلَبِ الْعِلْمِ الْمَفْقُوْدِ. 66. Inilah sejumlah persoalan yang dibutuhkan oleh orang yang hatinya terang, dari kalangan wali-wali Allah (yang bertakwa), dan itulah derajat orang-orang yang dalam ilmunya, karena ilmu itu ada dua macam, ilmu syari'at (ushul dan furu'nya) dan ilmu tentang perkara yang ghaib. Pengingkaran terhadap ilmu syari'at (yang dibawa oleh Rasulullahﷺ ( termasuk tindak kekafiran, dan mengaku-aku mengetahui perkara yang ghaib pun termasuk tindak kekafiran. Iman seseorang tidak akan sempurna bila dia tidak mengakui adanya ilmu syari'at dan ti...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٥٣- وَالْمِعْرَاجُ حَقٌّ، وَقَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقْظَةِ إِلَى السَّمَاءِ، ثُمَّ إِلَى حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الْعُلَا وَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَا شَاءَ، وَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى ﴿مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى﴾ [النَّجْمِ :(١١) فَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى 53. Peristiwa Mi'raj adalah benar Nabi ﷺ telah diperjalankan oleh Allah (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) dan juga dinaikkan ke langit (dengan jiwa dan raga beliau) dalam keadaan terjaga (tidak tidur). Kemudian Allah juga membawa beliau ke tempat lain yang dikehendaki-Nya di langit sana. Allah memuliakan beliau sesuai dengan kehendak-Nya dan Allah memberinya wahyu apa saja yang Allah wahyukan padanya. Firman Allah, "Hatinya tidak men-dustakan apa yang telah dilihatnya." (QS. An-Najm: 11), Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau di dunia dan juga di akhirat. ٥٤ - وَالْحَوْضُ الَّذِي أَكْر...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٥٢- وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ، وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ، وَالْأَعْضَاءِ، وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ. 52. Allah Mahatinggi (Mahasuci) dari batasan-batasan, dimensi-dimensi, unsur-unsur anggota tubuh, dan perangkat-perangkat, dan Dia tidak dibatasi oleh arah yang enam  jumlahnya sebagaimana yang berlaku pada makhluk-Niya Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz berkata: Perkataan beliau: "Allah Mahatinggi (Mahasuci) dari batatan ba dimensi dimensi, unsur-unsur anggota tubuh, dan perangkat perspe dan Dia tidak dibatasi oleh arah yang enam jumlahnya sebagaitrians berlaku pada makhluk-Nya." Ucapan beliau ini masih sangat global sehingga membutuhkan penjelasan yang tuntas Tetapi sayangnya, ucapan ini telah dijadikan dalil oleh para to'wil dan ilhad tentang nama nama dan Sifat-sifat Allah عز و جل padahal tidak ada hujjah bagi mereka pada ucapan beliau itu. Sebenarnya beliau bermaksud mensucikan Allah penyerupaan dengan makhlu...

AQIDAH THAHAWIYAH

 - وَلَا تَثْبُتُ قَدَمُ الْإِسْلَامِ إِلَّا عَلَى ظَهْرِ التَّسْلِيمِ وَالْإِسْتِسْلَامِ 48. Tidak akan kokoh sendi-sendi keislaman seseorang kecuali ditegakkan di atas ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah. ٤٩- فَمَنْ رَامَ عِلْمَ مَا حُظِرَ عَنْهُ عِلْمُهُ، وَلَمْ يَقْنَعُ بِالتَّسْلِيمِ فَهْمُهُ؛ حَجَبَهُ مَرَامُهُ عَنْ خَالِصِ التَّوْحِيدِ، وَصَافِي الْمَعْرِفَةِ وَصَحِيحِ الْإِيْمَانِ فَيَتَذَبْذَبُ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيْمَانِ، وَالتَّصْدِيقِ وَالتَّكْذِيبِ، وَالْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ، مُوَسْوَسًا، تَائِهَا، شَاكًّا، زَائِغّا، لَا مُؤْمِنًا مُصَدِّقًا، وَلَا جَاحِدًا مُكَذِّبًا. 49. Barangsiapa yang menginginkan ilmu yang dilarang untuk diketahui dan pemahamannya tidak merasa cukup puas dengan hanya berlandaskan ketundukan pada syari'at saja, maka keinginannya itu akan menghalanginya dari mendapatkan kemurnian tauhid, kejernihan pemahaman, dan kebenaran iman; dia berada dalam posisi yang ragu antara keimanan dan kekafiran, antara membenarkan dan mendustakan, anta...

AQIDAH THAHAWIYAH

 -٤٣ وَالرُّؤيَةُ حَقٌّ لِأهْل الْجَنَّةِ، بِغَيْرِ إِحَاطَةٍ وَلَا كَيْفِيَّة. 43. Ru'yah (Penduduk Surga akan melihat Allah) adalah benar, tanpa meliputi dan tanpa diketahui caranya., ٤٤- كَمَا نَطَقَ بهِ كِتَابُ رَبَّنَا وُجُوهٌ يَوْمَيذٍ نَاظِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ [القيامة : ٢٢-٢٣] 44. Sebagaimana firman Allah: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Rabb-nya." (QS. Al-Qiyaamah: 22-23). ٤٥ وَتَفْسِيرُهُ عَلَى مَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى وَعَلِمَهُ، وَكُلُّ مَا جَاءَ فِي ذَلِكَ مِنَ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَنِ الرَّسُوْلِ ﷺ فَهُوَ كَمَا قَالَ. 45. Penafsiran yang berkenaan dengan makna "melihat wajah Allah" adalah sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dan Allah ketahui. Dan setiap dalil yang datang dari hadits shahih dari Rasulullah ﷺ maka artinya adalah sebagaimana yang tersebut dalam teks hadits tersebut. ٤٦- وَمَعْنَاهُ: عَلَى مَا أَرَادَ، لَا نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوَلِيْنَ بِآرَائِنَا وَلَا مُتَوَهِمِينَ بِأَهْوَائِن...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٢٠ خَلَقَ الْْخَلْقَ بِعِلْمِهِ 20. Allah menciptakan makhluk dengan ilmu-Nya. ٢١- وَقَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًا. 11. Allah menentukan takdir bagi seluruh makhluk-Nya. وَضَرَبَ لَهُمْ أَحَالًا. 22. Allah menentukan ajal (kematian) bagi makhluk-Nya, -١٢- وَلَمْ يَخْفَ عَلَيْهِ شَيْءٍ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ. 23. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya. ٢٤ - وَعَلِمَ مَا هُمْ عَامِلُوْنَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ. 24. Allah mengetahui apa saja yang akan dikerjakan makhluk-Nya sebelum makhluk itu diciptakan. ٢٥ - وَأَمَرَهُمْ بِطَاعَتِهِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ. 25. Allah memerintahkan makhluk-Nya agar mentaati-Nya dan melarang mereka bermaksiat kepada-Nya. ٢٦- وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي بِتَقْدِيرِهِ وَمَشِيْئَتِهِ. 26. Segala sesuatu berjalan menurut takdir dan kehendak-Nya. ٢٧- وَمَشِيئَتُهُ تَنْفُذُ ، لَا مَشِيئَةَ لِلْعِبَادِ؛ إِلَّا مَا شَاءَ لَهُمْ، فَمَا شَاءَ لَهُمْ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ. 27. Kehendak Allah pasti...

AQIDAH THAHAWIYAH

 ٦لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ. 6. Allah tidak fana dan tidak pula binasa. -٧ وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ. 7. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. لَا تَبْلُغُهُ الْأَوْهَامُ، وَلَا تُدْرِكُهُ الْأَفْهَامُ. 8. Allah tidak dapat dijangkau oleh dugaan 20 dan tidak pula pemikiran. وَلَا يُشْبِهُ الْأَنَامَ. 9. Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya. 21 20 Perkataan Imam ath-Thahawi رحمة الله : "Allah tidak dapat dijangkau dengan dugaan dan tidak pula pemikiran." Allah Ta'ala berfirman: وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا ) "...Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS. Thaahaa: 110) Dikatakan dalam ash-Shihhaah: "Tawahhamtu asy-Syai-a, artinya: aku menyangkanya. Dan fahimtu asy-syai-a, artinya: aku mengetahuinya." Yang dimaksud oleh Syaikh رحمهُ الله ialah bahwa tidak ada suatu sangkaan (dugaan) pun yang dapat mencapai-Nya dan tidak ada satu ilmu pun yang dapat meliputi Nya. Maka Allah سبحانه وتعالى tidak ada yang mengetah...